Archive for May, 2009

Iklan unjuk rasa (demo ad)

May 28, 2009

Iklan berbentuk TVC, print ad, atau radio comm? Biasaaa… sekarang bentuk dan medium iklan udah maaaaaakin banyak dan bervariasi. Ada yang bentuk ambient ad, placement (produk digunakan dalam film/sinetron), adtalk (diucapkan dalam sebuah talkshow), dalam bentuk event, dll..

Nah, satu lagi patut dicoba neh.. iklan ‘berkedok’ unjuk rasa. Judulnya aja unjuk rasa/ demo/ protes terhadap suatu isu, tapiiii… dalemnya, isinya, teteeep.. KAMPANYE atau IKLAN.

Unjuk rasa di bunderan HI Jakarta beberapa waktu lalu yang menentang (meng-counter) politisasi isu neoliberisme untuk menyerang suatu kandidat presiden dan wapres, sebenarnya adalah BENTUK KAMPANYE TERSELUBUNG YANG MENGOMUNIKASIKAN PESAN IKLAN kandidat tersebut. Lihatlah kata ‘Lanjutkan!’.. bukankah itu kental dengan slogan iklan salah satu kandidat?

Iklan/ kampanye berkedok unjuk rasa.. menarik nggak ya jika diaplikasikan ke iklan produk/ jasa komersial? (sumber foto: Bisnis Indonesia)

Iklan/ kampanye berkedok unjuk rasa.. menarik nggak ya jika diaplikasikan ke iklan produk/ jasa komersial? (sumber foto: Bisnis Indonesia)

 

Hmmm.. boleh juga. Beriklan menggunakan medium unjuk rasa dengan mengangkat isu real yang lagi hangat. Kalau diaplikasikan ke suatu produk/ jasa komersial, mungkin cukup menarik. Axe memang pernah membuat suatu event yang menggunakan bentuk unjuk rasa para wanita2 cantik. Nah, produk/ jasa yang lain gimana?

Kalau isu unjuk rasa Axe yang diusung memang dibuat2 (bukan isu real yang sedang hangat) sebagai sebuah ‘iklan beneran’, gimana kalau MEMANFAATKAN ISU YANG SEDANG HANGAT DI MASYARAKAT, KEMUDIAN DIUNJUKRASAI DENGAN TITIPAN PESAN IKLAN SUATU PRODUK/ JASA YANG RELEVAN? Mungkin ini bisa disebut ambient event, atau iklan gerilya, karena menelusup ke isu real yang sedang beredar atau hangat dibicarakan masyarakat secara wajar, tanpa ‘kelihatan’ seperti iklan.

Boleh dicoba. (bamz)

Advertisements

Side job: Ketoprak Cell

May 27, 2009

Roda kehidupan metropolitan dengan tuntutan ekonomi yang kencang, membuat warga kota selalu kreatif mencari side job atau pekerjaan/penghasilan sampingan. Tidak karyawan, tidak pengusaha, tidak pelajar, tidak mahasiswa, tidak ibu rumahtangga, bahkan pedagang makanan keliling pun ikut ber-side job-ria. Contohnya pedagang ketoprak ini.

Kalau pedagang kecil ini saja bisa kreatif mencari penghasilan sampingan, mengapa kita tidak?

Kalau pedagang kecil ini saja bisa kreatif mencari penghasilan sampingan, mengapa kita tidak? (sumber foto: Jakarta Post)

Tak mau ketinggalan dengan riuh dan empuknya pasar Telco dewasa ini, pedagang ketoprak dorong ini juga ikut menjual voucher isi ulang (reload voucher) secara mobile. Selain menambah penghasilan, ‘mobile shop’ ini juga tentu saja lebih fleksibel dan tidak membutuhkan modal gede.

Ah.. betapa kreatifnya masyarakat kita. Tanpa disuapi dan diajari pemerintah pun, UKM bisa bergerak sendiri dengan modal apa adanya. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo bangkit! Masa’ kalah sama pedagang ketoprak ini? (bamz)

Kota puitis

May 27, 2009

Kerasnya Metropolitan, garingnya hidup yang diwarnai rutinitas yang membosankan, seperti menemukan oase-nya dengan hadirnya beberapa penggalan puisi di tembok-tembok gersang kota. Sebuah gerakan literasi kota yang kreatif dalam memopulerkan sastra sekaligus mengembuni nurani warga yang dahaga. (bamz)

Gerakan literasi kota atau moralisasi warga?

Gerakan literasi kota atau nuranisasi warga? (sumber foto: Kompas)

Kampanye caleg makin ‘gokil’

May 27, 2009

Bayangkan limabelas atau duapuluh tahun lalu. Menjelang Pemilu, jalan-jalan dan lapangan selalu disesaki orang-orang yang berkumpul atau berpawai mengikuti kampanye partai. Saat itu memang calon pemilih tidak memilih caleg, tapi memilih partai. Beda dengan sekarang, para pemilih langsung memilih caleg, sehingga caleg bersangkutan harus bekerja keras meraup perhatian dan simpati calon pemilih jika ingin terpilih.

Hiyaaaatt... awas lo gw tangkap kalo nilep duit rakyat.. (janjinee)

Hiyaaaatt... awas lo gw tangkap kalo nilep duit rakyat.. (janjinee)

Tak heran, maka caleg berlomba-lomba adu kreatif mengomunikasikan pesona dan personanya dengan berbagai cara dan medium, yang kadang ‘ngalah-ngalahin’ gokilnya orang kreatif periklanan. ‘Kegokilan’ ini juga dimungkinkan oleh situasi dewasa ini yang semakin terbuka, demokratis, ‘bebas’, dengan aura kompetisi yang semakin ketat.

Lord of the greng.. pilihlah sepuh yang dah kenyal pengalaman..

Lord of the greng.. pilihlah sepuh yang dah kenyal pengalaman..

Tapi di samping ‘gokil’, iklan-iklan para caleg yang berbentuk baliho dan poster2 itu juga cukup menghibur. Setidaknya bisa mengendurkan urat syaraf dan memancing senyum, lumayan bisa menetralisir ‘keras’nya persaingan dan (mudah2an) bisa jadi penghibur rakyat yang sehari2 terhimpit beban hidup akibat krisis berkepanjangan. (bamz –foto-foto: dontaskmetoshutup.wordpress.com)

James, boo! Mo nyaleg atw mo nge-spying..?

James, boo! Mo nyaleg atw mo nge-spying..?

Supermanis... deee senyumnya... bisa merontokkan jantung kota..

SuperManis... deee senyumnya... bisa merontokkan jantung kota..